Menghabiskan waktu Ramadan bersama anak-anak yatim sering kali diisi dengan kegiatan santunan formal yang terkadang terasa kaku. Namun, sebuah pendekatan berbeda dilakukan oleh komunitas mahasiswa yang peduli pada pengembangan imajinasi dan karakter anak. Mereka memperkenalkan metode storytelling kisah nabi sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi moral yang mendalam. Alih-alih hanya berceramah satu arah, mahasiswa menggunakan teknik bercerita yang interaktif, penuh ekspresi, dan melibatkan alat peraga sederhana untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan para utusan Tuhan di hadapan anak-anak yang haus akan kasih sayang.
Kegiatan ini dianggap sebagai cara asik untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan keteguhan hati kepada anak-anak sejak usia dini. Mahasiswa menyadari bahwa anak-anak memiliki dunia imajinasi yang sangat luas. Dengan gaya bercerita yang dramatis dan menyentuh, kisah-kisah yang ribuan tahun lalu terjadi seolah hadir kembali di ruang tengah panti asuhan. Anak-anak diajak untuk membayangkan bagaimana kesabaran Nabi Ayub atau keberanian Nabi Ibrahim, yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Upaya untuk menghibur yatim ini pun berubah menjadi sesi pembangunan mental yang sangat berharga.
Peran mahasiswa dalam kegiatan ini bukan hanya sebagai pencerita, melainkan juga sebagai teman bermain yang setara. Mereka menggunakan boneka tangan, ilustrasi gambar besar, hingga efek suara buatan untuk menjaga perhatian anak-anak agar tetap fokus. Keberhasilan metode ini terlihat dari bagaimana anak-anak aktif bertanya dan memberikan komentar di sela-sela cerita. Suasana yang tercipta sangat hangat dan penuh tawa, menghilangkan kesan sedih yang sering kali melekat pada kehidupan di panti asuhan. Melalui kekuatan narasi, mahasiswa berhasil memberikan kado psikologis yang jauh lebih berkesan daripada sekadar bingkiah hadiah fisik.
Selain menghibur, kegiatan ini juga bertujuan untuk melatih kemampuan literasi dan berbicara anak-anak. Di akhir sesi, beberapa anak diberikan kesempatan untuk menceritakan kembali bagian favorit mereka dari kisah nabi tersebut. Latihan sederhana ini sangat efektif untuk membangun kepercayaan diri mereka di depan orang banyak. Mahasiswa memberikan apresiasi yang tinggi bagi setiap anak yang berani tampil, menciptakan lingkungan yang suportif bagi pertumbuhan karakter mereka. Inilah esensi dari pengabdian mahasiswa: memberikan alat bagi anak-anak untuk bermimpi dan memiliki teladan hidup yang kuat melalui literasi agama yang menyenangkan.