Dalam Pertemuan Strategis tersebut, BAPOMI memaparkan hasil evaluasi performa atlet Banyuasin dalam dua tahun terakhir. Ditemukan adanya kecenderungan stagnasi pada beberapa cabang olahraga unggulan karena kurangnya tantangan baru dalam metode latihan. Oleh karena itu, BAPOMI Banyuasin menginstruksikan para pengurus untuk mulai menerapkan sistem promosi dan degradasi bagi para atlet di tingkat kampus. Sistem ini akan memaksa setiap individu untuk terus mengasah kemampuannya agar tidak tergeser oleh talenta muda baru yang lebih progresif. Diskusi berlangsung dinamis untuk menentukan indikator capaian fisik dan teknik yang objektif bagi setiap disiplin olahraga.
Langkah Strategis yang diambil adalah dengan mendatangkan pelatih konsultan atau pakar olahraga dari tingkat provinsi untuk melakukan audit teknik secara berkala. BAPOMI ingin memastikan bahwa pola latihan yang dijalankan di Banyuasin sudah sesuai dengan tren kompetisi internasional terbaru. Melalui pertemuan ini, disepakati juga adanya peningkatan frekuensi uji coba pertandingan ke luar daerah. Menghadapi lawan yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi adalah cara tercepat untuk mendeteksi kelemahan internal. Banyuasin tidak boleh lagi merasa puas menjadi juara di kandang sendiri, tetapi harus berani menguji nyali di arena yang lebih luas dan kompetitif.
Upaya untuk Tingkatkan Grade atlet mahasiswa juga mencakup pemanfaatan teknologi analisis performa. BAPOMI Banyuasin mendorong setiap cabang olahraga untuk mulai menggunakan rekaman video dan sensor gerak sederhana dalam memantau perkembangan teknik atlet. Dengan melihat data secara visual, seorang atlet dapat mengetahui detail terkecil dari kesalahannya, seperti sudut tendangan atau kecepatan reaksi saat start lari. Perbaikan detail-detail kecil inilah yang pada akhirnya akan mendongkrak kelas seorang atlet dari tingkat lokal menjadi atlet yang layak diperhitungkan di podium nasional.
Fokus pada pengembangan setiap Atlet juga tidak melupakan aspek pendidikan formal mereka. BAPOMI Banyuasin berkomitmen untuk membantu sinkronisasi jadwal latihan dengan kewajiban akademis agar grade intelektual mereka tetap terjaga. Mahasiswa yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan otak dan kekuatan otot cenderung lebih cerdas dalam mengambil keputusan taktis saat bertanding. Dalam pertemuan strategis ini, pihak kampus diminta untuk memberikan dukungan berupa fasilitas belajar mandiri bagi atlet yang sedang menjalani pemusatan latihan intensif. Prestasi olahraga harus menjadi komplementer bagi kesuksesan masa depan mereka di dunia profesional.