Menjaga massa otot dan kekuatan selama bulan puasa adalah tantangan yang sering membuat para olahragawan merasa dilematis. Banyak yang beranggapan bahwa saat puasa, beban latihan harus dikurangi secara drastis agar tidak lemas. Namun, bagi para pejuang olahraga di wilayah Banyuasin, terdapat sebuah pendekatan yang lebih saintifik dalam mempertahankan kekuatan tanpa harus menguras energi cadangan secara berlebihan. Metode tersebut adalah menggunakan trik High Load Low Rep, di mana atlet tetap menggunakan beban yang berat namun dengan jumlah pengulangan atau repetisi yang sangat terbatas.
Filosofi di balik teknik ini adalah menjaga stimulasi sistem saraf pusat tanpa memicu kelelahan metabolik yang berlebihan. Ketika seorang atlet melakukan banyak repetisi (high rep), tubuh akan memproduksi banyak asam laktat dan membutuhkan oksigen serta glikogen dalam jumlah besar untuk proses pemulihan instan di sela-sela set. Hal ini sangat berisiko menyebabkan dehidrasi dan lemas di siang hari. Sebaliknya, dengan menggunakan beban yang berat (high load) namun hanya dilakukan sebanyak 1 hingga 5 repetisi (low rep), fokus latihan bergeser dari kelelahan otot menuju penguatan koneksi saraf dan rekrutmen serat otot tipe cepat yang sangat penting bagi kekuatan ledak.
Di lingkungan pelatihan Banyuasin, penerapan strategi ini memungkinkan atlet untuk tetap “merasakan” beban kompetisi meskipun tubuh sedang dalam kondisi defisit kalori. Penggunaan beban yang berat memberikan sinyal kepada tubuh bahwa massa otot saat ini masih sangat dibutuhkan, sehingga proses pemecahan protein otot (katabolisme) untuk energi dapat ditekan. Dengan kata lain, latihan ini berfungsi sebagai pengingat biologis agar tubuh tidak membuang otot yang telah dibangun dengan susah payah selama masa persiapan sebelum bulan Ramadan. Kuncinya adalah durasi istirahat antar set yang lebih panjang agar detak jantung tetap stabil dan suhu tubuh tidak naik terlalu tinggi.
Selain menjaga kekuatan, metode ini juga sangat efisien secara waktu. Sesi latihan menjadi lebih singkat namun sangat berkualitas. Seorang olahragawan tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di tempat gym yang dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan melalui keringat. Cukup dengan beberapa gerakan utama (compound movements) seperti squat, deadlift, atau press dengan teknik yang sempurna, tujuan pemeliharaan fisik sudah tercapai. Fokus pada kualitas daripada kuantitas adalah prinsip utama yang harus dipegang teguh agar stamina tetap terjaga hingga waktu berbuka tiba tanpa merasa kelelahan yang luar biasa.